Halo, Karyawan itu Malas Ikut Formalitas Perayaan Kemerdekaan di Kantor!

Egan Janitra, 18 Aug 2025

Setiap bulan Agustus, banyak kantor berubah jadi panggung formalitas. Ada upacara bendera setengah hati, lomba balap karung yang dipaksakan, ruangan dipenuhi hiasan merah putih seadanya. Semua itu dilakukan seolah-olah demi menghargai jasa pahlawan. Nyatanya, sebagian besar karyawan cuma malas-malasan, ikut upacara sambil berharap cepat selesai, pura-pura semangat lomba padahal capek, dan diam-diam berpikir: lebih baik tidur di rumah daripada terjebak formalitas yang sama setiap tahun.

Kenyataan pahitnya, banyak karyawan merayakan kemerdekaan dengan wajah bosan dan hati setengah ikhlas. Karena bagi mereka, semua aktivitas itu tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata: gaji tidak naik, karier tidak melesat, dan beban kerja tetap menumpuk. Jadi wajar kalau peringatan kemerdekaan terasa hambar—karena yang dirayakan hanyalah simbol, bukan substansi.

Kalau memang ingin benar-benar menghargai kemerdekaan, cara terbaik bukan dengan menghias meja kerja pakai kertas lipat murahan. Kemerdekaan bisa diwujudkan dengan membebaskan diri dari pola pikir “kerja itu sekadar menggugurkan tugas.” Selama karyawan masih bekerja dengan mental budak, semua perayaan hanyalah topeng. Justru merdeka itu ketika berani mengambil inisiatif, membangun reputasi profesional, dan tidak selamanya bergantung pada instruksi atasan. Itu baru bentuk penghormatan yang konkret terhadap kemerdekaan.

Lebih jauh lagi, jangan bicara merdeka kalau masih terjajah oleh cicilan kartu kredit, gaya hidup yang tidak bisa dikendalikan, dan kebiasaan pamer receh di media sosial. Negara sudah 80 tahun bebas dari penjajah, tapi banyak karyawan masih rela dijajah oleh “paylater.” Bukankah ironis kalau kemerdekaan dirayakan dengan hutang baru?

Sama halnya dengan belajar. Apa gunanya ikut lomba makan kerupuk kalau skill kerja mandek? Para pejuang dulu mengasah strategi perang, sementara karyawan sekarang justru terjebak rutinitas, malas mengasah diri, lalu heran kenapa kariernya jalan di tempat. Momentum 80 tahun ini seharusnya jadi pengingat: belajar hal baru, ambil sertifikasi, atau setidaknya upgrade skill digital. Itu jauh lebih relevan daripada ikut lomba joget TikTok di kantor.

Dan jangan lupa, kemerdekaan Indonesia tidak pernah lahir dari orang yang sibuk bersaing sendiri. Ia lahir karena kolaborasi. Tapi di kantor, banyak karyawan masih sibuk menjatuhkan rekan, menyimpan ilmu, dan berharap rekan kerja gagal. Ironis sekali: di luar kantor teriak “Merdeka!”, di dalam kantor malah bertingkah seperti penjajah kecil.

Kebiasaan menunda pun sama memalukannya. Pejuang 1945 tidak mungkin bilang, “Kita lawan Belanda minggu depan aja, lagi malas.” Tapi karyawan modern entah kenapa bangga dengan kalimat, “Deadline bisa besok, santai dulu.” Merdeka apa kalau hidup masih dikendalikan rasa malas?


Delapan puluh tahun kemerdekaan Indonesia seharusnya jadi momentum untuk keluar dari lingkaran formalitas konyol yang tidak berdampak. Karena kenyataannya, bangsa ini tidak butuh lebih banyak lomba makan kerupuk, tapi lebih banyak karyawan yang berani berpikir kritis, bekerja dengan integritas, dan hidup dengan tanggung jawab.

Kalau mau jujur, cara paling nyata untuk menghargai kemerdekaan bukan dengan bendera plastik di meja kerja atau lomba lari kelereng, melainkan dengan menjadi manusia yang benar-benar merdeka: merdeka finansial, merdeka dari mentalitas medioker, merdeka dari kebiasaan malas, dan merdeka untuk terus berkembang.

Segala yang lain? Hanya dekorasi kosong yang bahkan tidak menarik untuk dikenang.


Bagikan