Kerja di Perusahaan Stabil atau Startup? Ini Plus Minusnya!

Egan Janitra, 22 Sep 2024

Dalam dunia kerja, memilih antara bekerja di perusahaan yang sudah stabil atau di startup menjadi keputusan penting. Kedua jenis perusahaan ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda, sehingga menentukan mana yang lebih cocok tergantung pada preferensi, kebutuhan, dan harapan individu. Mari kita bahas plus minus dari kedua pilihan ini, lengkap dengan beberapa contoh nyata.

Pertama, keamanan finansial menjadi salah satu perbedaan utama antara perusahaan stabil dan startup. Bekerja di perusahaan yang sudah stabil biasanya memberikan rasa aman yang lebih tinggi. Perusahaan ini telah terbukti berhasil melewati berbagai tantangan ekonomi dan memiliki posisi pasar yang solid. Contohnya, perusahaan seperti Telkom Indonesia atau Bank BRI sudah memiliki sistem operasional yang mapan dan pendapatan yang stabil, sehingga risiko PHK mendadak lebih rendah. Di sisi lain, startup memiliki risiko yang lebih tinggi karena sebagian besar masih mencari model bisnis yang cocok dan berkelanjutan. Ada kemungkinan besar perusahaan ini gagal dalam beberapa tahun pertama. Namun, jika startup tersebut sukses, keuntungan finansial bisa sangat besar, baik dari gaji yang meningkat tajam maupun dari kepemilikan saham.

Kedua, fleksibilitas dalam bekerja menjadi daya tarik utama di startup. Di startup, fleksibilitas sangat tinggi. Jadwal yang fleksibel, budaya kerja yang dinamis, dan tanggung jawab yang bervariasi adalah hal yang umum. Misalnya, di startup teknologi seperti Gojek saat awal berdiri, banyak karyawan yang diizinkan bekerja dari mana saja dan memiliki tugas yang berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan perusahaan yang berkembang cepat. Sebaliknya, di perusahaan besar yang sudah stabil, alur kerja biasanya lebih kaku. Peraturan dan prosedur sudah terbentuk, sehingga karyawan harus mengikuti standar yang telah ditetapkan. Meski ini menciptakan lingkungan kerja yang lebih terstruktur, beberapa orang merasa kurang leluasa untuk mengekspresikan ide-ide baru.

Ketiga, kesempatan untuk berinovasi lebih besar di startup. Startup umumnya menawarkan lebih banyak ruang untuk inovasi. Karena belum ada struktur yang kaku, karyawan bisa lebih leluasa menyumbangkan ide-ide baru yang mungkin akan langsung diimplementasikan. Sebagai contoh, di startup e-commerce seperti Tokopedia pada awal perkembangan, banyak inovasi teknologi yang dihasilkan langsung dari masukan tim internal. Sebaliknya, di perusahaan yang lebih besar, proses inovasi sering kali lebih lambat. Meskipun ada departemen khusus untuk pengembangan dan inovasi, pengambilan keputusan harus melalui banyak lapisan manajemen, sehingga ide-ide baru sering kali terhambat birokrasi.



Keempat, keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi sering kali lebih baik di perusahaan yang sudah stabil. Perusahaan stabil umumnya memberikan jam kerja yang lebih teratur dan kebijakan kesejahteraan karyawan yang lebih jelas. Misalnya, banyak perusahaan besar di Indonesia yang sudah menerapkan kebijakan cuti tahunan, jaminan kesehatan, dan pensiun yang solid. Di startup, seringkali tuntutan kerja lebih besar, terutama di masa-masa awal perusahaan berdiri. Ada karyawan yang harus bekerja lebih dari jam kerja normal, tanpa ada jaminan kesejahteraan yang jelas. Contohnya, beberapa mantan karyawan startup sering mengeluhkan harus bekerja selama akhir pekan atau pada jam-jam yang tidak teratur karena tenggat waktu proyek yang ketat.

Kelima, pengembangan karier di perusahaan stabil cenderung lebih terstruktur. Di perusahaan yang stabil, pengembangan karir cenderung lebih terstruktur. Ada jenjang karir yang jelas dan proses promosi biasanya lebih sistematis. Karyawan di perusahaan besar seperti Pertamina bisa merencanakan karir jangka panjang, termasuk melalui pelatihan formal yang disediakan perusahaan. Di startup, karir bisa berkembang dengan sangat cepat atau malah stagnan, tergantung pada performa perusahaan. Jika startup berkembang pesat, karyawan awal bisa mendapatkan promosi cepat dan memegang posisi penting. Namun, jika startup gagal, pengembangan karir bisa terhenti. Selain itu, karena struktur organisasi yang belum mapan, jalur promosi kadang tidak sejelas di perusahaan besar.

Keenam, di startup, karyawan biasanya memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap arah perusahaan. Salah satu kelebihan besar bekerja di startup adalah kesempatan untuk memberikan pengaruh langsung terhadap perkembangan perusahaan. Setiap karyawan bisa memiliki dampak signifikan, karena tim kerja biasanya lebih kecil. Contohnya, seorang desainer di startup fintech bisa melihat hasil karyanya langsung digunakan dalam produk yang diluncurkan dalam beberapa minggu. Di perusahaan besar, karyawan biasanya hanya bertanggung jawab pada tugas yang sangat spesifik, dan dampaknya terhadap perusahaan secara keseluruhan mungkin tidak terlalu terasa. Walaupun stabil, ini membuat beberapa orang merasa kurang berarti dalam skala yang lebih besar.

Ketujuh, dalam hal gaji, perusahaan stabil biasanya menawarkan gaji yang lebih terjamin. Perusahaan stabil biasanya menawarkan gaji yang lebih terjamin dan tunjangan yang menarik. Perusahaan besar seperti Astra atau Unilever, misalnya, memberikan tunjangan kesehatan, bonus tahunan, dan insentif lain yang memastikan kesejahteraan karyawan. Sebaliknya, startup sering kali tidak bisa memberikan gaji tinggi di awal, namun mereka menawarkan ekuitas atau opsi saham sebagai kompensasi tambahan. Ini adalah taruhan yang bisa sangat menguntungkan jika perusahaan sukses, namun bisa menjadi rugi jika perusahaan gagal.

Kedelapan, peluang untuk networking lebih besar di perusahaan besar. Bekerja di perusahaan besar menawarkan peluang networking yang lebih luas dengan orang-orang berpengalaman dari berbagai divisi dan industri. Ini sangat bermanfaat jika Anda ingin membangun karir jangka panjang atau mencari mentor yang sudah berpengalaman. Namun, di startup, jaringan internal cenderung lebih kecil karena jumlah karyawan lebih sedikit. Meskipun demikian, Anda bisa membangun hubungan yang lebih dekat dengan para pendiri atau manajemen, yang bisa memberikan bimbingan langsung.



Kesembilan, tantangan bekerja di startup lebih besar. Bekerja di startup biasanya lebih menantang karena Anda akan dihadapkan pada berbagai masalah yang harus diselesaikan dengan cepat. Tantangan ini cocok untuk mereka yang suka dengan perubahan dan tekanan tinggi. Sebaliknya, di perusahaan stabil, tantangan mungkin datang dalam bentuk yang lebih terukur dan bisa diantisipasi. Meskipun tidak semenarik tantangan di startup, stabilitas ini membuat karyawan bisa lebih tenang dalam bekerja.

Kesimpulannya, setiap pilihan, baik startup maupun perusahaan yang sudah stabil, memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Yang terpenting adalah menyesuaikan pilihan dengan preferensi pribadi dan tujuan jangka panjang. Apakah Anda mencari keamanan dan keseimbangan, ataukah tantangan dan peluang besar? Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa keputusan ini harus dipertimbangkan dengan cermat agar sesuai dengan kebutuhan karir Anda.

By Epployee, No More Drama HR dan Karyawan!


Bagikan