Perang Tarif: Saat Kita Disuruh Bayar, Tapi Mereka Masuk Gratis

Egan Janitra, 27 Jul 2025

Bayangkan kamu punya toko kecil di pasar. Kamu biasa tukar-menukar dagangan dengan pedagang besar bernama Amerika. Dulu hubungan lancar. Tapi sekarang, pedagang besar itu balik lagi jadi ketua pasar — namanya Pak Donny alias Donald Trump — dan dia pasang aturan baru: “Barang dari tokomu sekarang kena biaya tambahan 19% sampai 40% kalau mau dijual ke pasarku.”

Kaget? Harusnya iya. Karena sebelumnya kamu bisa jualan tanpa biaya tambahan. Sekarang, daganganmu dihitung “mengganggu pasar dalam negeri” mereka. Jadi, kamu tetap boleh masuk, tapi harus bayar lebih mahal. Kalau kamu kirim sepatu, baju, besi, atau komponen dengan bahan dari China — semuanya bisa dipalak. 

Ironisnya, di saat kita dibebani tarif masuk, Indonesia malah membuka pintu selebar-lebarnya: 99% produk Amerika sekarang bisa masuk ke Indonesia dengan tarif 0%. Kita kasih karpet merah, mereka lempar kita pakai tagihan.

Ini bukan kerjasama. Ini timpang.

Trump, setelah resmi kembali jadi Presiden AS tahun ini, langsung tancap gas dengan pendekatan proteksionis versi lamanya: Amerika harus menang sendiri dulu, baru mikirin orang lain. Dan Indonesia, entah karena tekanan atau strategi jangka panjang yang belum jelas hasilnya, justru menerima kebijakan ini dengan tangan terbuka.

Sekarang coba pikir: perusahaan sepatu di Bandung harus bersaing di pasar Amerika dengan harga yang 19% lebih mahal dari Vietnam. Tapi di sini, sepatu Amerika bisa masuk bebas bea. Ini seperti kamu disuruh bayar parkir ke rumah orang, tapi orang itu bebas masuk rumahmu seenaknya.

Lebih lucu lagi, sebagian besar masyarakat Indonesia bahkan nggak sadar bahwa ini sedang terjadi. Karena bahasanya dibungkus rapi: “kerja sama dagang strategis,” “komitmen liberalisasi pasar,” atau “perluasan akses ekspor.” Padahal intinya jelas: kita bayar mahal ke mereka, mereka masuk gratis ke kita.

Dampaknya sangat nyata. Ekspor turun. Pabrik ngerem produksi. Petani dan buruh bisa kehilangan order. Ini bukan teori ekonomi di kertas — ini soal dapur orang kecil yang bisa tidak ngebul.

Lalu, sebagai karyawan, kamu harus bersikap. Jangan pasrah. Jangan apatis. Kebijakan global bukan hanya milik pemerintah. Ketika ekspor turun, perusahaan tempatmu kerja bisa goyah. Maka kamu harus jadi pribadi yang gesit: pahami risiko bisnis, tambah skill, dan cari celah nilai tambah.

Jangan cuma jadi penonton dalam permainan yang mengatur hidupmu. Karena kalau kita diam saja saat mainan kita dikenai pajak, dan malah tepuk tangan saat barang asing masuk gratis — maka sebenarnya kitalah yang sedang dijual.

By Epployee, Sistem HRIS yang paling bikin pekerjaan kamu cepat dan tepat akurat.

Bagikan