Berdasarkan data dan riset finansial, berikut adalah batasan angka konkret untuk dikategorikan sebagai orang kaya di Indonesia:
Secara akademis dan perbankan, batasan terkecil dimulai dari Rp15 Miliar hingga Rp16 Miliar dalam bentuk kekayaan bersih (net worth). Angka ini merujuk pada standar High-Net-Worth Individual (HNWI) dari Knight Wealth Report dan lembaga perbankan global (setara US$ 1 juta), di luar nilai rumah tinggal utama yang ditempati.
Jika diukur berdasarkan kelas pengeluaran rumah tangga resmi BPS dan Bank Dunia, batas minimum kelompok 1% teratas di Indonesia (Upper Class) adalah pengeluaran keluarga minimal Rp15 Juta hingga Rp20 Juta per orang per bulan (atau sekitar Rp60 Juta - Rp80 Juta per bulan untuk keluarga dengan 4 anggota).
Dari sudut pandang Financial Independence, Retire Early (FIRE) dengan perhitungan batas aman penarikan 4% per tahun, seseorang di Indonesia baru dianggap aman dan bebas secara finansial jika memiliki aset produktif (SBN, saham dividen, deposito) minimal Rp6 Miliar untuk menopang pengeluaran Rp20 Juta/bulan, atau Rp15 Miliar untuk menopang pengeluaran Rp50 Juta/bulan tanpa perlu bekerja lagi.
Sebagai contoh nyata, seorang profesional di Jakarta dengan gaji Rp50 juta per bulan tetapi memiliki utang KPR dan cicilan mobil senilai Rp30 juta per bulan serta tabungan di bawah Rp200 juta secara teknis bukan orang kaya, melainkan kelompok High Earner, Not Rich Yet (HENRY). Sebaliknya, seseorang yang memiliki portofolio investasi cair sebesar Rp10 Miliar yang menghasilkan imbal hasil bersih Rp500 Juta per tahun adalah orang kaya secara kriteria aset.
Di kelas tertinggi, kriteria Ultra High-Net-Worth Individual (UHNWI) atau jajaran super kaya di Indonesia menetapkan batas minimum kekayaan bersih sebesar US$ 30 Juta atau sekitar Rp480 Miliar.
Dari ketiga ukuran angka di atas—mulai dari aset Rp6 Miliar (FIRE), Rp16 Miliar (HNWI), hingga Rp480 Miliar (UHNWI)—angka mana yang saat ini menjadi target realistis dalam perencanaan finansialmu?
By Epployee, Smart HR System yang mengerti bisnismu, mengerti kebutuhan HR kamu, mengerti semua karyawan punya karya dan cerita. (EJ)